PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP AUDIT SISTEM INFORMASI KOMPUTERISASI AKUNTANSI

Peranan teknologi informasi pada aktivitas

manusia saat ini memang begitu besar.

Teknologi informasi telah menjadi fasilitator

utama bagi kegiatan-kegiatan bisnis yang,

memberikan andil besar terhadap perubahanperubahan

mendasar bagi struktur, operasi

dan manajemen organisasi. Jenis pekerjaan

dan tipe pekerja yang dominan di Jaman

Teknologi Informasi adalah otonomi dan

wewenang yang lebih besar dalam

organisasi.

Boundaryless organization adalah kondisi

organisasi yang digunakan dalam teknologi

informasi dengan batas-batas horisontal,

vertikal, eksternal dan geografis yang sehat.

Menipisnya batas horisontal mengakibatkan

berkurangnya birokrasi sehingga organisasi

menjadi lebih datar, dan karyawan menjadi

lebih berdaya (empowered employees) dan

menjadikan terwujudnya kerja sama lintas

fungsional dalam memenuhi kebutuhan

customers yang kompleks. Menipisnya batas

eksternal menjadikan perusahaan lebih

berfokus ke penyediaan produk dan jasa

yang menjadi kompetensi intinya (care

competence). Untuk memenuhi kebutuhan

customers yang kompleks, perusahaan

membangun jejar ing organi s a s i

(organization network), yang di dalamnya

setiap perusahaan menjadi anggota jejaring

sehingga mampu menghasilkan value terbaik

bagi customers, karena koordinasi tidak lagi

dijalankan melalui ”command and control

mode” namun koordinasi dilaksanakan

melalui komunikasi, persuasi dan

kepercayaan (trust). Kekohesivan organisasi

yang menggunakan tim lintas fungsional,

dan yang mempekerjakan karyawan yang

berdaya, serta yang menggunakan jejaring

organisasi dalam mewujudkan tujuan

organisasi ditentukan dari seberapa jelas

misi dan visi organisasi dirumuskan dan

keberhasilan pengomunikasian strategi

tersebut kepada seluruh personel organisasi

dan seluruh organisasi dalam jejaring.

Pemberdayaan karyawan yang dilandasi oleh

trust-based relationship antar manajer dan

karyawan menjadikan Information sharing

dapat meningkatkan tuntutan tentang

otonomi dan wewenang di kalangan

karyawan,Persuasi menjadi pilihan untuk

menggantikan komando, karena knowledge

workers menjadi dominan dalam

mewujudkan visi organisasi. dalam memacu

komitmen karyawan untuk mengubah

strategi menjadi tindakan nyata.

Berkat teknologi ini, berbagai kemudahan

dapat dirasakan oleh manusia seperti:

  • • Teknologi informasi melakukan otomasi

terhadap suatu tugas atau proses yang

menggantikan peran manusia.

  • • Teknologi informasi berperan dalam

restrukturisasi terhadap peran manusia

yang melakukan perubahan-perubahan

terhadap sekumpulan tugas atau proses.

  • • Teknologi informasi memiliki

kemampuan untuk mengintegrasikan

berbagai bagian yang berbeda dalam

organisasi dan menyediakan banyak

informasi ke manajer.

  • • Teknologi informasi juga memengaruhi

antarmuka-antarmuka organisasi dengan

lingkungan, seperti pelanggan dan

pemasok.

  • • Teknologi informasi dapat digunakan

membentuk strategi untuk menuju

keunggulan yang kompetitif (O’Brien,

1996), antara lain:

1. Strategi biaya: meminimalisir biaya/

memberikan harga yang lebih murah

terhadap pelanggan, menurunkan

biaya dari pemasok.

2. Strategi diferansiasi: mengembangkan

cara-cara untuk membedakan produk/

jasa yang dihasilkan perusahaan

terhadap pesaing sehingga pelanggan

menggunakan produk/jasa karena

adanya manfaat atau fitur yang unik.

3. Strategi inovasi: memperkenalkan

produk/jasa yang unik, atau mem

buat perubahan yang radikal dalam

proses bisnis yang menyebabkan

perubahan-perubahan yang mendasar

dalam pengelolaan bisnis.

4. S t r a t e g i p e r t u m b u h a n :

mengembangkan kapasitas produksi

secara signifikan, melakukan ekspansi

ke dalam pemasaran global, melakukan

diversifikasi produk/jasa bam,

atau mengintegrasikan ke dalam

produk/jasa yang terkait.

5. Strategi aliansi: membentuk

hubungan dan aliansi bisnis yang baru

dengan pelanggan, pemasok, pesaing,

konsultan, dan lain-lain.

Namun ironisnya, pesatnya perkembangan

teknogi informasi tersebut awal mulanya

bertolak belakang dengan sudut pandang

Auditor yang menilai bahwa hubungan

bisnis yang wajar adalah jika dilaksanakan

berdasarkan falsafah arm’s length

transaction-yaitu transaksi antara pihakpihak

yang bebas atau independen.

Hubungan istimewa (atau dikenal dengan

related party transaction) diyakini auditor

sebagai transaksi yang dapat menimbulkan

ketidakwajaran angka yang dicatat dalam

catatan akuntansi. Padahal transaksi bisnis

yang didasarkan atas arm’s-length

transaction dan nilai dasar ketidakpercayaan

merupakan hubungan bisnis jangka pendek.

Masing-masing pihak hanya mengusahakan

agar pada saat transaksi bisnis terjadi,

mereka yang terkait mampu bersikap

businesslike, sehingga masing-masing pihak

dapat memperoleh manfaat dari transaksi

yang dilaksanakan. Apakah di kemudian hari

pihak-pihak yang terkait sekarang akan

melaksanakan bisnis, tergantung dari

penentuan syarat-syarat independensi pada

saat transaksi yang akan terjadi di masa yang

akan datang tersebut sedangkan kemitraan

Usaha (Partnered Relationship) untuk

mendobrak mitos tersebut harus

menitikberatkan pada trust building dan core

competency di dalam membangun hubungan

kemitraan, baik di dalam organisasi

perusahaan (antara manajer dengan

karyawan dan antar fungsi dalam organisasi)

maupun di antara perusahaan dengan para

pemasok dan mitra bisnisnya

sumber :jurnal.unikom.ac.id/ed9/04-Supriyati.pdf

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: